Tim Pro Vs Bot OpenAI di Turnamen Dota 2


Jelang digelarnya persaingan tahunan gim Dota dua, The International, sebanyak skuat terbaik di global bakal melawan kesebelasan "unik" beranggotakan bot berbasis teknologi kecerdasan produksi (artificial intelligence, AI) kepunyaan OpenAI.

OpenAI dikabarkan membuat skuat bot AI yg siap bertarung memakai tim profesional di The International.

Tahun kemudian, perusahaan nirlaba besutan Elon Musk ini sempat bertarung satu lawan satu (one-on-one) memakai pemain profesional pada The International.

Setelahnya, mereka merasa empiris melawan bot AI tadi dapat memberikan empiris yg baik & belajar tidak sedikit menurut teknologi itu.

Meski begitu, bermain satu versus satu memakai bertarung melawan satu kesebelasan bot AI pastinya menghadirkan kendala yang tidak selaras untuk perusahaan.

Salah satu kendala yang OpenAI mesti mengajarkan AI bagaimana metodenya berkoordinasi memakai 5 bot lainnya ketika di pada gim.

OpenAI menjamin, keterampilan belajar bot berbasis kecerdasan produksi itu setara dengan empiris bermain sekitar 180 tahun.

Sekadar keterangan, The International ialah turnamen Dota dua terbesar yg diselenggarakan setiap tahun.

Pada turnamen ini, pemain Dota 2 terbaik menurut ragam macam negara di global berkumpul dan berlomba buat mendapatkan duit hibah miliaran rupiah.

Pemain Dota dua Terbaik Dunia Kalah sang AI
Kurang dari satu tahun yg lalu, bot kepunyaan OpenAI secara mengejutkan dapat mengalahkan Danylo "Dendi" Ishutin pada perseteruan satu page satu.

Hanya dalam saat 10 mnt di konflik primer, Dendi mesti menelan kekalahan menurut keterangan dari bot kepunyaan OpenAI.

Di pertarungan ke 2, Dendi tetapkan bikin menyerah dan nir melanjutkan konflik ketiga.

"Tolong, berhenti bully aku ," tutur pemain yg diduga sudah mengantongi duit hadiah kemenangan sejumlah US$ 735.499 sepanjang kariernya untuk bot OpenAI saat konflik.

Elon Musk juga memuji OpenAI atas prestasinya. Ia mengungkapkan bot-nya ialah "pemain terbaik kesatu yang sanggup mengungguli pemain terbaik global pada ajang eSports yang kompetitif".

Sebelum tampil dan bertarung memakai Dendi, Brockman sudah menguji jajaki bot-nya dengan melawan sejumlah gamer pro Dota dua, dan hasilnya pun paling memuaskan.

"Selama sepekan terakhir, tidak terdapat satu juga pemain pro yg mampu mengalakan bot kami. Di antara pemain pro itu adalahSumaiL (pemain terbaik 1v1 di dunia) dan Arteezy (pemain top di global," tulis Brockman dalam blog perusahaan.

Meski sukses mengalahkan pemain terbaik di dunia, Brockman merasa bot-nya masih jauh menurut keterangan dari sempurna. Ia dan timnya ketika ini sedang mengerjakan peningkatan agar bot-nya dapat bermain 5 versus 5 (5v5).

0 Comments


EmoticonEmoticon